”Tak seorang pun yang
diberi Allah sepuluh hal kecuali akan selamat dari berbagai bahaya, dan akan
mencapai derajat muqarrabin dan muttaqin. Pertama, selalu jujur dan memiliki hati yang puas. Kedua,kesabaran yang sempurna yang
disertai rasa syukur. Ketiga,
kemiskinan yang dihiasi dengan zuhud. Keempat,
selalu merenungi keagungan Allah walaupun perutnya dalam keadaan lapar. Kelima, kesedihan yang disertai rasa
takut terus menerus. Keenam,
kesungguhan berkesinambungan diikuti
dengan sikap rendah diri.Ketujuh,
kelembutan yang disertai belas kasih. Kedelapan,cinta
membara yang disertai rasa malu yang mendalam. Kesembilan, ilmu yang bermanfaat bersama sikap yang santun. Dan Kesepuluh, iman yang membaja disertai
akal yang tajam dan kuat. (Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh).
Anugerah yang tersisa bagi pelaku dosa
“Seorang hamba, meskipun melakukan perbuatan
dosa, maka Allah tetap akan menganugerahinya empat hal. Pertama, Allah tidak menutup jalan rezekinya. Kedua, Allah tidak mencabut kesehatan yang diberikan kepadanya. Ketiga, Allah tidak memperlihatkan
rahasia dosanya di depan umum. Dan keempat,
Allah tidak pula menyiksanya dengan segera di dunia (tetapi ditangguhkan agar
dia bertaubat).” (Sa’ad bin Bilal Radhiyallahu ‘Anh)
ENAM TIPU DAYA PALING BERAHAYA
“Menurutku, ada enam hal
yang termasuk tipuan paling besar. Pertama,
mengharapkan ampunan dari Allah tetapi terus-menerus melakukan dosa tanpa
penyesalan. Kedua, merasa dekat
dengan Allah tetapi tidak melakukan ketaatan. Ketiga, menunggu tanaman surga tetapi selalu menyemai benih amalan
neraka. Keempat, mencari istana
orang-orang yang taat tetapi selalu berbuat maksiat. Kelima, menanti pahala tetapi tak mau beramal. Dan keenam, mendambakan kasih sayang Allah
tetapi selalu melanggar ketentuan-Nya.” (Yahya bin Mu’adz Radhiyallahu ‘Anh)
ENAM SUMBER KERUSAKAN HATI
“Sesungguhnya kerusakan hati itu lantaran enam
hal. Pertama, sengaja berbuat dosa
karena masih ada harapan untuk bertaubat.
Kedua, mengajarkan ilmu
pengetahuan tetapi tidak mengamalkannya. Ketiga,
ketika mengamalkannya tidak ikhlas. Keempat,
makan rezeki dari Allah tetapi tidak mau mensyukurinya.Kelima, tidak pernah puas dengan pemberian Allah.Dan keenam,mengebumikan jenazah tetapi
tidak pernah mengambil pelajaran dari peristiwa itu.” (Hasan Al Bashri ra)
SALING BERPESAN DALAM TIGA HAL
“Orang-orang shalih dahulu sebelum kita,
saling berpesan dalam tiga hal dan sering menghadirkannya dalam tulisan. Pertama, barang siapa yang beramal
semata-mata untuk bekal di akhirat,maka Allah akan mencukupi urusan agama dan
dunianya. Kedua, barang siapa yang
membaguskan sikap-sikapnya yang tersembunyi, maka Allah akan membuat baik
sikap-sikapnya yang tampak. Dan ketiga,
barang siapa yang memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah,maka Allah akan memperbaiki
hubungannya dengan manusia.” (Ali bin Abi Thalib ra)
SISI KEUTAMAAN DAN SISI KEWAJIBAN
“Ada
empat hal,lahirnya adalah keutamaan dan bathinnya adalah kewajiban.Pertama, bergaul dengan orang-orang
baik adalah keutamaan,sedang mengikuti jejaknya adalah kewajiban. Kedua, membaca Al-Qur’an adalah
keutamaan, sedang mengamalkan isinya adalah kewajiban. Ketiga, ziarah kubur adalah keutamaan, sedang mempersiapkan diri
menuju kuburan adalah kewajiban. Dan keempat,
menjenguk orang sakit adalah keutamaan, sedang melaksanakan wasiatnya adalah
kewajiban.”(Utsman bin Affan ra)
TIGA SYARAT MENGHIMPUN KALAM ALLAH
Tidak ada orang yang bisa menghimpun kalam
Allah (Al-Qur’an) kecuali orang yang bisa menghimpun tiga perkara. Pertama, memiliki hati yang hidup dan
sadar. Jika tidak maka dia tidak bias mengambil manfaat dari perkataan-Nya. Kedua, menyimak dengan pendengarannya
dan menghadapkannya kepada lawan bicara (Allah). Jika tidak, maka dia tidak
bisa mengambil manfaat dari perkataan-Nya.Dan ketiga, menghadirkan hati dan pikirannya di hadapan Dzat yang
berbicara dengannya. Jika hatinya tidak hadir dan melenceng ke tempat lain,
maka dia tidak akan bis mengambil manfaat dari pembicaraan yang ada.”
(Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al Jauziyaah)
ALLAH SWT MENYEMBUNYIKAN TIGA PERKARA DALAM TIGA PERKARA Pertama, Allah menyembunyikan keridhaan-Nya di dalam ketaatan
kepada-Nya, maka janganlah kamu menghina-Nya, sebab boleh jadi keridhaan-Nya
tersimpan di balik ketaatan itu. Kedua,
Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya di balik kedurhakaan terhadap-Nya. Maka
janganlah kamu memandang ringan terhadap kedurhakaan itu. Boleh jadi
kemurkaan-Nya terdapat padanya. Dan ketiga,
Allah menyembunyikan wali-wali-Nya di kalangan hamba-hamba-Nya. Maka janganlah
kamu menghina seorang pun dari kalangan hamba-hamba Allah. Boleh jadi wali
Allah terdapat di kalangan mereka.” (Imam Ja’far bin Shadiq ra)
LIMA CALON PENGHUNI SURGA
“Kalau saja tidak takut
mendahului yang gaib, aku berani bersaksi, maka lima golongan ini menjadi penghuni surga. Pertama, orang fakir yang bersabar
menanggung hidup keluarganya. Kedua,
istri yang diridhai suaminya. Ketiga,istri
yang menyedekahkan maharnya untuk suaminya. Keempat, anak yang diridhai orang tuanya. Dan kelima, orang yang bertaubat dari dosa-dosanya.” (Umar bin Khattab
ra)
DUA SUMBER KERIDHAAN DAN DUA YANG DIBUTUHKAN
“Perbanyaklah melakukan
empat hal di bulan Ramadhan ini. Dua hal diantaranya akan membuat Rabbmu ridha
dan dua hal adalah apa yang pasti kamu perlukan. Dua hal pertama yang membuat
Rabbmu ridha adalah syahadat lailalaillah dan beristighfar kepada-Nya,sedang
dua hal yang kamu pasti memerlukannya adalah kamu meminta surga dan berlindung
dari neraka,” (HR. Al Uqaili, Ibnu Huzhaimah, Al Baihaki)
EMPAT HAL YANG TERASING
“Ada
empat hal yang terasing di dunia ini. Pertama,
Al-Qur’an di kerongkongan orang yag lalai. Kedua,
masjid di tengah-tengah kaum yag tidak mendirikan shalat. Ketiga, mushaf yang terdapat dalam sebuah rumah, tapi tidak pernah
dibaca. Dan keempat, laki-laki yang
shaleh di antara sekelompok orang-orang yang buruk akhlaknya.” (Abu Hurairah
RA)
Sempurnakan tiga hal untuk menjadi mukmin
“Sempurnakanlah tiga hal dengan tiga hal yang
lain agar kamu termasuk orang-orang yang beriman. Pertama, melawan kesombongan diri dengan rendah hati. Kedua, membunuh sifat rakus dan tamak
dengan rasa puas (qana’ah). Dan ketiga,
menghilangkan sifat iri hati dan dengki dengan mau mendengarkan nasehat.”
(Malik bin Dinar rahimahullah)
TIGA WASIAT BAKR BIN ABDULLAH
“Jika engkau melihat orang lain, aku wasiatkan
kepadamu untuk mengatakan tiga hal. Pertama,
jika engkau melihat orang yang lebih tua usianya darimu, katakanlah, “Orang ini
sudah mendahuluiku dalam beriman dan beramal shaleh, ia tentu lebih baik dariku”.
Kedua, jika engkau melihat orang
yang lebih muda usianya darimu, katakankah, “Aku telah mendahuluinya berbuat
dosa dan kemaksiatan,tentu ia lebih baik dariku”. Dan ketiga, jika engkau melihat sahabat-sahabatmu menghormatimu dan
memuliakanmu, katakanlah, “Ini adalah keutamaan yang akan diperhitungkan
nanti.” Dan kalau melihat mereka yang kurang menghormatimu, katakanlah, “Ini
adalah akibat dosa yang aku perbuat.” (Bakr bin Abdullah rahimahullah)
Tujuh kunci kebaikan
“Barangsiapa yang memelihara tujuh perkara,
maka ia akan menjadi orang yang mulia di sisi Allah dan di hadapan para
malaikat: Allah akan mengampuni dosanya meski seperti buih di lautan; ia akan
merasakan ni’kmatnya melaksanakan ketaatan; dan hidup matinya akan berada dalam
kebaikan: Pertama, membaca basmalah
setiap akan memulai sesuatu. Kedua,
membaca hamdalah setiap kali selesai mengerjakan sesuatu. Ketiga, membaca istighfar setiap kali melakukan sesuatu yang tidak
bermanfaat. Keempat, mengucapkan
Insya Allah setiap kali berjanji melakukan sesuatu. Kelima, mengucapkan hauqalah setiap kali menemukan sesuatu yang
tidak disenangi. Keenam, mengucapkan
istirja’ setiap kali tertimpa musibah. Dan ketujuh,
banyak membaca laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah, baik siang maupun
malam hari.” (Al Faqih Abu Laits rahimahullah)
CUKUPKANLAH DIRIMU DENGAN TIGA HAL
“Cukupkanlah dirimu dengan tiga hal. Pertama, sesungguhnya di antara sekian
banyak kenikmatan dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat untukmu. Kedua, diantara sekian banyak kesibukan,
cukuplah ketaatanmu kepada Allah sebagai kesibukan bagimu. Dan ketiga, diantara sekian banyak
pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.” (Ali bin Abi Thalib RA)
EMPAT PONDASI KEKUFURAN
“Ada
empat pondasi kekufuran; yaitu sombong, hasad, amarah, dan syahwat. Adapun
kesombongan akan mencegah orang dari ketundukan. Hasad akan mencegah orang dari
mendengarkan ataupun memberikan nasehat. Amarah akan mencegah dari berbuat
adil. Sedangkan syahwat akan mencegah keseriusan dalam beribadah.Jika pondasi
kesombongan roboh,maka akan mudahlah ketundukan. Jika pondasi kedengkian runtuh
maka akan mudahlah orang menerima nasehat. Jika tiang amarah yang roboh maka
akan gampanglah ia berlaku adil dan tawadhu. Dan jika benteng syahwat yang
runtuh maka akan mudahlah ia bersabar, menjaga kehormatan diri, dan beribadah.”
(Ibnu Qayyim Al Jauziyah)
LIMA KEADAAN KARENA LIMA
PERKARA
“Ada lima perkara yang bisa mendatangkan lima perkara yang lain. Pertama, tidaklah suatu kaum mengingkari janji kecuali Allah akan
memberikan kekuasaan kepada musuh-musuh atas mereka. Kedua, tidaklah mereka menghukum selain yang diturunkan Allah
kecuali mereka akan ditimpa kemiskinan. Ketiga,
tidaklah perzinahan menyebar di kalangan mereka kecuali kematian pun akan
menyebar. Keempat, tidaklah mereka
mengurangi timbangan kecuali kekeringan dan paceklik akan menimpa mereka. Dan kelima, tidaklah mereka menahan zakat
kecuali hujan pun akan dicegah atas mereka.” (Abdullah bin Abbas ra)
TIGA SUNGAI PEMBERSIH DOSA
“Allah SWT telah membuat tiga sungai untuk
membersihkan tubuh orang yang berdosa. Jika ketiga sungai itu belum cukup maka
Allah akan membersihkannya di Sungai Jahannam. Ketiga sungai itu adalah; Pertama, sungai taubatan nasuha;yaitu
melepaskan segala perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Kedua, sungai hasanaat; yaitu
kebaikan-kebaikan yang akan mengubur semua bentuk keburukan. Dan ketiga, sungai mushibah azhimah; yaitu
bencana atau ujian yang besar yang akan melebur setiap dosa. Apabila Allah
menghendaki kebaikan kepada seorang hamba-Nya ia akan memasukkannya ke dalam
salah satu sungai tersebut, hingga ia akan datang kepada-Nya di Hari Kiamat
dengan tubuh yang suci dan bersih dan tidak perlu dimandikan di sungai yang
keempat (Sungai Jahannam).” (Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
JIKA HANYA ALLAH TUJUANMU
“Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka
kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan
menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikut. Artinya jika kamu menuju Allah,
kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan
meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudian tergoda untuk mencari
kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan pergi
mninggalkanmu.” (Ibnul Qayyim, Al-Fawaid)
DOSA YANG HARUS DIMINTAKAN AMPUNAN
“Seseorang hamba tidak berhak mendapat sebutan
“orang yang bertaubat” kecuali setelah dia membebaskan diri dari
perkara-perkara yang harus dimintakan ampunan, yang jenisnya ada dua belas
yaitu: Kufur, syirik, nifaq, fusuk, kedurhakaan, dosa, pelanggaran, kekejian,
kemungkaran, aniaya, mengeluarkan perkataan terhadap Allah tanpa dilandasi ilmu
dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Kedua belas jenis ini merupakan
poros dari berbagai macam perkara yang diharamkan Allah.” (Madarijus Saalikiin
Ibnu QOyyim Al Jauziyah)
POHON DAN BUAHNYA
Tahun itu ibarat pohon.
Bulan-bulan adalah dahannya. Hari-hari adalah rantingnya. Jam demi jam adalah
daun-daunnya. Nafas-nafas manusia adalah buahnya. Maka barangsiapa nafas-nafas
kehidupannya dalam ketaatan, maka buah dari pohon itu adalah buah yang manis.
Dan barangsiapa yang nafas-nafas kehidupannya dalam kemaksiatan, maka buah
pohon itu adalah buah yang pahit. Sesungguhnya saat memetik buah pohon itu
adalah kelak di akhirat. Saat memetik itu baru bisa diketahui manis atau
pahitnya buah nafas-nafas itu.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
ENAM HAL PENUTUP PINTU TAUFIQ ALLAH
Ditutupnya pintu taufiq Allah karena enam hal:
Pertama, sibuk dengan nikmat dan
lupa bersyukur. Kedua, kecintaan
terhadap ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Ketiga,
cepat berbuat maksiat dan lambat bertaubat. Keempat, bergaul dengan orang-orang shaleh tetapi tidak meneladani
mereka. Kelima, dunia
meninggalkannya tetapi dia mengejarnya. Keenam,
akhirat mendatanginya tetapi dia berpaling darinya. (Syaqiq bin Ibrahim)
EMPAT TINGKATAN ILMU
Al-Khalil Ibnu Ahmad mengatakan, bahwa terkait
dengan ilmu, manusia itu terbagi menjadi empat: Pertama, orang yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu. Dialah orang
yang alim, maka ikutilah dia. Kedua,
orang yang tahu, tapi dia tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dia itu sedang tidur,
maka bangunkan dia. Ketiga, orang
yang tidak tahu, dan tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dia itu orang yang jahil,
maka ajarilah dia. Keempat, orang
yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Inilah orang yang
sesat, maka tolaklah ia.
RASA
TAKUT
Orang yang takut mati takkan menjatuhkan
dirinya dalam bahaya. Orang yang takut miskin hanya akan berpikir soal uang.
Orang yang takut kekerasan akan menghindarkan diri dari pertarungan. Orang yang
takut sedih tidak akan berdaya dalam berlomba dan berjuang. Orang yang tidak
takut pada sesuatu akan merdeka, bebas dari tekanan, percaya diri dan mampu
mengusai diri. Hanyalah Islam yang mengambil perasaan takut manusia itu satu
persatu lalu membuangnya dari dalam hati, mengikis pengaruhnya, agar hati
sanggup menghadapi kehidupan dengan tangguh, senang, kuat dan lapang. (Muhammad
Qutbh)
JIWA YANG MULIA DAN YANG HINA
Syaqiq bin Ibrahim mengatakan, “Pintu taufiq
tertutup bagi manusia dari enam hal: Pertama,
tidak bersyukur terhadap nikmat. Kedua,
mencintai ilmu tanpa melaksanakannya. Ketiga,
berbuat dosa dan mengakhirkan taubat. Keempat,
bersahabat dengan orang-orang yang shalih tetapi tidak meneladani perbuatan
mereka. Kelima, mengakui rendahnya
dunia tetapi mengejarnya. Dan keenam,
mempercayai akhirat tetapi meremehkannya. Sedang keenam hal itu disebabkan oleh
tidak adanya rasa cinta dan rasa takut, lemahnya keyakinan, lemahnya hati kecil
(nurani), lemahnya jiwa, serta menggantikan sesuatu yang baik dengan sesuatu
yang hina. Sumber kebaikan adalah taufiq Allah dan kehendak-Nya. Sedang sumber
kejahatan adalah kehinaan, kerendahan dan kekerdilan jiwa. (Ibnul Qayyim
Al-Jauziyah)
TIGA AKAR KESALAHAN
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Akar dari kesalahan itu ada tiga. Pertama,
kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang dia alami. Kedua keserakahan,, dan itulah yang
mengeluarkan Adam dari surga. Ketiga,
kedengkian, dan itulah yang menyebabkan salah satu anak adam membunuh
saudaranya. Maka barangsiapa berlindung dari tiga akar kesalahan itu,
sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena
kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya
keserakahan. Sedang kedzaliman itu sumbernya kedengkian. Selanjutnya sebab
orang masuk neraka itu ada tiga. Pertama,
karena syubhat yang melahirkan keraguan kepada agama Allah. Kedua, karena syahwat yang
menyebabkannya mengutamakan hawa nafsu daripada taat kepada Allah dan
keridhaan-Nya. Ketiga, karena kemarahan
yang melahirkan pertikaian sesama makhluk Allah.”
TIGABELAS BUKTI PENGUAT IKHLAS
Ikhlas itu mempunyai bukti penguat dan
tanda-tanda pada orang yang Mukhlis (berbuat ikhlas). Diantaranya adalah: Pertama, takut akan ketenaran. Kedua, menuduh diri sendiri. Ketiga,beramal secara diam-diam, jauh
dari sorotan. Keempat, tidak
menuntut pujian dan tidak terkecoh oleh pujian. Kelima, tidak kikir pujian terhadap orang-orang yang memang layak
dipuji. Keenam, berbuat selayaknya
dalam memimpin. Ketujuh, mencari
keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia. Kedelapan,
menjadikan keridhoan dan kemarahan karena Allah, bukan karena kepentingan
pribadi. Kesembilan, sabar sepanjang
jalan. Kesepuluh, merasa senang jika
ada yang bergabung. Kesebelas, rakus
terhadap amal yang bermanfaat. Keduabelas,
menghindari ujub. Dan terakhir, senantiasa membebaskan diri dari pujian dan
sanjungan.”(Yusuf Al Qaradhawi)
ENAM KEADAAN HATI
Hati memiliki enam keadaan. Pertama, kehidupan. Kedua, kematian. Ketiga, kesehatan. Keempat,
sakit. Kelima, sadar. Keenam, tidur. Kehidupannya adalah
petunjuk., kematiannya adalah kesesatan, kesehatannya adalah kebersihan dan
kejernihan, sakitnya adalah kekeruhan dan ketergantungan, sadarnya adalah
dzikir dan tidurnya adalah kelalaian. Setiap keadaan mempunyai tanda. Tanda
kehidupan adalah beramal dengan penuh harap dan rasa takut, kematiannya
kebalikannya. Tanda kesehatannya adalah rasa lezat dan sakitnya kebalikannya.
Tanda sadar adalah mendengar dan melihat, tidurnya kebalikannya.
LIMA
GULITA DAN LIMA
PELITA
Abu Bakar Shidiq ra berkata: “Kegelapan itu
ada lima, dan pelita dalam kegelapan itu juga
ada lima. Cinta
dunia itu kegelapan, pelitanya adalah taqwa. Dosa itu kegelapan, pelitanya
adalah taubat. Kubur itu kegelapan, pelitanya adalah Laaa ilaaha illallah.
TIGA TEMAN SETELAH MATI
Setelah kematian, tidak ada yang tetap
menyertai manusia kecuali tiga sifat: Pertama
kejernihan hati. Yakni kejernihannya dari berbagai kotoran. Kejernihan dan
kesuciannya tidak akan tercapai kecuali dengan menahan diri dari berbagai
syahwat dunia. Kedua, keakrabannya
dengan dzikrullah. Keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan memperbanyak
dzikrullah dan senantiasa melakukannya. Ketiga,
kecintaannya kepada Allah. Cinta tidak akan tercapai kecuali dengan ma’rifah.
Sementara itu ma’rifatullah tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa
tafakkur. Tiga sifat inilah yang menyelamatkan dan membahagiakan setelah
kematian. (Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin)
DELAPAN KERUSAKAN AKIBAT HAWA NAFSU
Menahan hawa nafsu lebih mudah daripada
menahan konsekuensi yang diakibatkan oleh hawa nafsu tersebut. Nafsu yang tidak
terkendali menyebabkan delapan bencana. Pertama,
rasa sakit dan penderitaan. Kedua,
terputusnya nikmat yang lebih sempurna. Ketiga,
hilangnya waktu yang dapat menyebabkan kerugian dan penyesalan. Keempat, lenyap dan hilangnya harta
benda, nama baik, kewibawaan dan kekayaan. Kelima,
tertutupnya pintu kebaikan dan dilanda kesedihan, duka cita dan penderitaan
yang tidak sebanding dengan nikmatnya syahwat. Keenam, melupakan ilmu yang mengingatnya lebih nikmat daripada
mengumbar hawa nafsu. Ketujuh,
membahagiakan musuh dan menyengsarakan wali. Kedelapan, memutus jalan nikmat dan mendapatkan aib yang sulit
dihilangkan. Sesungguhnya amal perbuatan mewariskan sifat dan akhlak. (Ibnul
Qayyim Al Jauziyah)






